TEKNOLOGI DAN MEDIA PAK
A.
PENGERTIAN TEKNOLOGI DAN MEDIA PAK
Teknologi
merupakan segala sesuatu yang memudahkan untuk melakukan sesuatu guna
kesejahteraan manusia.
Penggunaan teknologi oleh manusia
diawali dengan pengubahan sumber daya alam menjadi alat-alat sederhana.
Teknologi bagi kita merupakan pengetahuan terhadap penggunaan alat dan
kerajinan= membuat kue, pesawat, dan bagaimana hal tersebut mempengaruhi
kemampuan untuk mengontrol dan beradaptasi dengan lingkungan alamnya. Salah satu
kebudayaan yang unggul pada waktu itu adalah Yunani. Beberapa Ilmu dihasilkan
melalui para filsuf yang bermukim di Yunani. Salah satu istilah yang mau
dibahas adalah “teknologi”.
Istilah ini dapat diterapkan secara umum atau spesifik:
contoh‐contoh mencakup "teknologi
konstruksi", "teknologi medis", atau "state‐of‐the‐art teknologi"
Kita menggunakan teknologi dimulai dengan konversi sumber
daya alam menjadi peralatan sederhana. Penemuan yang prasejarah kemampuan untuk
mengendalikan api sehingga dapat mengolah makanan dan penemuan roda membantu
manusia dalam perjalanan di dalam dan mengendalikan lingkungan mereka.
Perkembangan teknologi terbaru, termasuk mesin cetak,
telepon, dan Internet, mengatasi hambatan fisik untuk komunikasi dan
memungkinkan manusia untuk berinteraksi dengan bebas pada skala global atau
luas. Namun, tidak semua teknologi ini telah digunakan untuk tujuan damai;
pengembangan senjata yang semakin meningkat kekuatan destruktif telah
berkembang sepanjang sejarah, dari klub untuk senjata nuklir.
Teknologi telah mempengaruhi masyarakat dan sekitarnya dalam
beberapa cara. Dalam masyarakat, teknologi telah membantu mengembangkan ekonomi
yang lebih maju (termasuk ekonomi global saat ini). Tetapi banyak proses‐proses teknologi juga menghasilkan produk
yang tidak diinginkan atau mengakibatkan sesuatu hal, contohnya polusi, dan
menguras sumber daya alam, dengan merusak bumi dan lingkungannya. Berbagai
implementasi teknologi mempengaruhi nilai‐nilai masyarakat dan teknologi baru
sering menimbulkan pertanyaan‐pertanyaan etika baru. Contohnya meliputi munculnya gagasan
tentang efisiensi dalam hal produktivitas manusia, istilah yang awalnya hanya
berlaku bagi mesin, dan tantangan dari norma‐norma tradisional.
Perdebatan filosofis telah muncul di masa kini dan masa
depan menggunakan teknologi dalam masyarakat, dengan teknologi ketidaksepakatan
mengenai apakah memperbaiki kondisi manusia atau memburuk itu. Neo‐Luddism, anarko‐primitivisme, dan gerakan‐gerakan serupa mengkritik
pervasiveness teknologi dalam dunia modern, opining bahwa itu merugikan
lingkungan dan mengasingkan rakyat; pendukung ideologi seperti transhumanism
dan techno‐progresivisme
melihat kemajuan teknologi terus bermanfaat untuk masyarakat dan kondisi
manusia. Memang, sampai saat ini, diyakini bahwa perkembangan teknologi
dibatasi hanya untuk manusia, tetapi penelitian ilmiah baru‐baru ini menunjukkan bahwa primata
lain dan masyarakat lumba‐lumba tertentu telah mengembangkan alat yang sederhana dan
belajar untuk menyampaikan pengetahuan mereka kepada generasi yang lain.
Pengertian
Teknologi dari sisi Etimologi Kata
Sama dengan disiplin ilmu lainnya
yang tidak dapat dipisahkan dengan kebudayaan Yunani, maka kata teknologi juga
dapat kita hubungkan dengan kata Yunani. Kata teknologi berasal dari bahasa
Yunani technología (τεχνολογία) ‐ TECHNE (τέχνη), 'kerajinan' dan‐Logia (‐λογία), studi tentang sesuatu, atau
cabang pengetahuan dari suatu disiplin. Teknologi juga dapat diartikan benda‐benda yang berguna bagi manusia,
seperti mesin, tetapi dapat juga mencakup hal yang lebih luas, termasuk sistem,
metode organisasi, dan teknik.
Kemudian kata Teknologi
diterjemahkan ke bahasa Perancis yaitu “La
Teknique”. Kata ini dapat diartikam demikian: semua proses yang dilakukan dalam upaya untuk mewujudkan sesuatu secara
rasional. Sesuatu yang dimaksud dalam definisi ini dapat berupa: benda atau
konsep, pembatasan cara yaitu secara rasional sedemikian pembuatannya atau
perwujudan sesuatu tersebut dapat dilaksanakan secara berulang (repitisi)
Teknologi dalam arti seperti yang
dikemukakan di atas dapat diketahui melalui barang-barang, benda-benda, atau
alat-alat yang berhasil dibuat oleh manusia untuk memudahkan dan menggampangkan
realisasi hidup manusia di dalam dunia. Hal mana juga memperlihatkan tentang wujud
dari karya cipta dan karya seni (Yunani “techne”) manusia selaku homo
technicus. Dari sini muncullah istilah
teknologi yang berarti ilmu yang mempelajari tentang “techne” manusa. Tetapi
arti teknologi tidak sebatas itu, arti teknologi lebih dari sekedar penciptaan
barang, benda atau alat dari manusia selaku homo technicus atau homo feber.
Teknologi telah menjadi suatu system atau struktur dalam eksistensi manusia di
dalam dunia. Teknologi bukan lagi sekedar
sebagai suatu hasil daya cipta yang ada dalam kemampuan dan keunggulan
manusia, tetapi ia telah menjadi suatu daya cipta yang berdiri di luar
kemampuan manusia, yang pada gilirannya kemudian membentuk dan menciptakan
suatu komunitas manusia yang lain.
Definisi
Kamus
Dalam kamus Merriam-Webster, teknologi
mendapat definisi sbb:
Technology" adalah the
practical application of knowledge especially in a particular area (terapan
praktis pengetahuan, khususnya dalam ruang lingkup tertentu) dan a
capability given by the practical application of knowledge (kemampuan yang
diberikan oleh terapan praktis pengetahuan).
Jadi dalam kamus Merriam-Webster,
Definisi teknologi adalah sbb:
Teknologi adalah aplikasi praktis
dari pengetahuan khusus di daerah tertentu dan kemampuan yang diberikan oleh
aplikasi praktis dari pengetahuan.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
(1990 : 1158) terdapat dua pengertian tentang teknologi, yaitu:
- Teknologi adalah metode ilmiah untuk mencapai tujuan praktis ilmu pengetahuan terapan
- Teknologi adalah keseluruhan sarana untuk menyediakan barang- barang yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia.
Teknologi sebagai Barang Buatan
Manusia
Pengertian teknologi yang tertua, sangat sederhana, dan
paling umum dikenal orang ialah sebagai barang buatan dari manusia.Mengapa
manusia sejak zaman yang amat kuno perlu membikin berbagai barang buatan
seperti kapak, palu, pengungkit, perahu, dan kereta? Jawabannya yang paling
masuk akal adalah karena manusia merupakan suatu makhluk yang amat rapuh
jasmaninya.
Menurut Lord Ritchie‐Calder, dari masa yang tertua dan
mulai dengan alat‐alat yang paling sederhana, setiap penemuan dan penciptaan
berdasarkan pada kenyataan bahwa manusia bukan hanya suatu makhluk perseptual
melainkan juga suatu makhluk konseptual yang mampu mengamati, mengingat, dan
menjajarkan gambaran angan‐angan. Ia dapat membuat suatu perancangan mental, suatu
khayalan tekno‐puitis,
bahkan bilamana sarana untuk senyatanya membuatnya tidak tersedia.
Menurut sejarahnya, ada dua titik waktu yang sangat penting
dalam perkembangan teknologi menurut A. Gehlen (Man in the Age of Technology),
yaitu:
- Revolusi neolitik: mulai titik waktu ini manusia beralih dari hidup mengembara dan berburu ke keadaan hidup menetap dengan mengembangkan pertanian dan pemeliharaan hewan.
- Revolusi industri: berkembangnya kebudayaan mesin yang memenuhi kebutuhan manusia dan mengubah tatanan hidupnya.
Teknologi sebagai barang buatan manusia memiliki tiga ragam
dasar yang sekaligus menunjukkan perkembangan historis yang berlainan. Hal ini
adalah pendapat dari seorang ahli yaitu Ladislav Tondl. Ragam dasar itu adalah:
- Alat
Suatu benda yang bergerak semata‐mata berdasarkan tenaga dari otot
manusia. Pada
umumnya manusialah yang membimbing dan mengendalikan alat‐alat, dengan demikian manusia
jugalah yang menjadi sumber informasi.
- Mesin
Sesuatu sistem peralatan yang tidak menggunakan tenaga
manusia, melainkan sumbersumber tenaga di luar manusia, tetapi masih tetap
memerlukan manusia untuk membimbing dan mengendalikannya.
- Automaton
Perlengkapan teknologi yang paling tinggi ragamnya dan
paling canggih. Perlengkapan ini (berdasarkan asas sibernetika yang
menggantikan fungsi pengendalian : manusiawi) mampu membuat keputusan dan
mengatur sendiri.
Teknologi sebagai Kegiatan Manusia
Pengertian teknologi sebagai barang buatan kurang lengkap
dan terlampau sempit. Barang buatan hanyalah suatu hasil akhir dari sebuah
proses atau rangkaian kegiatan yang telah berlangsung sebelumnya. Oleh karena
itu, pembahasan tentang pengertian teknologi harus menjelaskan kegiatan apa
atau bagaimana yang telah terjadi sehingga menghasilkan berbagai barang buatan
dati manusia itu.
Kegiatan manusia yang termasuk pengertian teknologi pada
pokoknya dapat dibedakan dalam dua jenis, yaitu membuat dan menggunakan.
Membuat adalah kegiatan merancang dan menciptakan sesuatu barang buatan, sedang
menggunakan adalah melakukan sesuatu kegiatan sesuai dengan fungsi suatu barang
buatan yang telah dibuat. Sebagai contoh misalnya pembuatan perahu pada zaman
dahulu, orang harus terlebih dahulu membuat kapak, palu, gergaji, dan alat
pengukur. Kemudian barulah orang membuat perahu dengan menggunakan alatalat
itu. Jadi, dalam pembuatan suatu perahu yang senyatanya dilakukan dua jenis
kegiatan membuat dan denggunakan. Dalam zaman modem,sekarang, kegiatan
menggunakan berbagai peralatan, mesin, dan perlengkapan lainnya dalam pabrik
untuk memproduksi (membuat) sesuatu barang buatan tampak lebih menonjol. Kedua
kegiatan membuat dan kegiatan menggunakan itu sebagai teknologi harus
dibedakan.
Dengandemikian, jelaslah kini apa yang dimaksud dengan
teknologi sebagai kegiatan manusia. Tetapi tidak setiap kegiatan manusia adalah
teknologi, melainkan hanyalah kegiatan yang mempunyai dua ciri pokok, yaitu
efisien dan memiliki tujuan tertentu.
Teknologi sebagai Kumpulan
Pengetahuan
Analisis yang lebih mendalam lagi terhadap teknologi sebagai
kegiatan manusia yang secara sistematis Iangkah demi langkah dilakukan untuk
mencapai sesuatu tujuan tertentu secara efisien sampai pada faktor pengetahuan
yang mendasari kegiatan itu Pengetahuan ini harus dipelajari oleh manusia baik
dari pengalaman sendiri maupun dari sumber‐sumber lain untuk dapat melakukan
kegiatan yang merupakan teknologi.
Seorang ahli Tom Burns mengartikan teknologi sebagai
kumpulan pengetahuan, tetapi pengetahuan itu dibedakan menjadi dua kelompok,
yakni pengetahuan yang masih terdapat pada bangsa yang terbelakang atau kurun
masa sebelum industrialisasi zaman modern dan pengetahuan yang telah bersangkut
paut dengan masyarakat‐masyarakat industri. Atau dapat dikatakan, pengertian
teknologi sebagai kumpulan pengetahuan dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu
pengetahuan yang masih bersifat tradisional sebelum terjadinya industrialisasi
dan pengetahuan yang telah bercorak modem dalam masyarakat industri untuk produksi
berbagai barang danjasa.
Definisi
Para Sarjana (Ilmuwan Sosial)
1.
Read Bain (1937), adalah seorang sosiolog
Amerika mendefinisikan teknologi dengan menyatakan bahwa Teknologi meliputi
semua alat, mesin, aparat, perkakas, senjata, perumahan, pakaian,peranti
pengangkut/pemindahan dan pengomunikasi, dan ketrampilan yang memungkinkan kita
menghasilkan semua itu.
2.
Ursula
Franklin,
dalam karyanya dari tahun 1989, kuliah "Real World of Technology",
memberikan definisi teknologi sbb:
Technologi adalah practice, the
way we do things around here (praktis, cara kita memperbuat ini semua di
sekitaran sini). Istilah ini seringkali digunakan untuk mengimplikasikan suatu
lapangan teknologi tertentu, atau untuk merujuk teknologi tinggi atau sekadar elektronik konsumen, bukannya teknologi secara keseluruhan.
Dengan kata lain Ursula Franklin,
dalam bukunya yang berjudul "Real
World of Teknologi "( 1989), memberi definisi lain dari konsep; itu
adalah" praktik, cara kita melakukan hal‐hal di sini ". Istilah ini
sering digunakan untuk menyiratkan bidang tertentu teknologi, atau untuk
mengacu pada teknologi tinggi atau hanya konsumen elektronik, daripada
teknologi secara keseluruhan. Bernard Stiegler, di Teknik dan Time, 1,
mendefinisikan teknologi dalam dua cara: sebagai "pengejaran kehidupan
dengan cara selain hidup", dan sebagai "yang diselenggarakan materi
anorganik."
Dengan kata lain definisi Ursula
Franklin di atas menyatakan bahwa teknologi adalah praktis, cara kita membuat
ini semua di sekitaran ini.
3.
Bernard Stiegler dalam dalam Technics and Time, 1, mendefinisikan technology
dalam dua cara, yaitu:
a. Technology sebagai the pursuit of
life by means other than life (pencarian kehidupan, dalam artian lebih dari
sekadar hidup),
b. Technology sebagai organized inorganic matter
(zat-zat anorganik yang tersusun rapi).
Dalam weblog Mulyadiniarty
dikemukakan beberapa definisi teknologi sbb:
- Teknologi adalah ; 1) Ilmu yang menyelidiki cara- cara kerja di dalam tehnik 2) Ilmu pengetahuan yang digunakan dalam pabrik- pabrik dan industri- industri (Harahap, Poerbahawadja, 1982 : 1357).
- Teknologi adalah cabang ilmu pengetahuan yang berkenaan dengan industri bangunan, mesin- mesin dan sebagainya ( Salim, 1985 : 2015).
- Menurut Rogers (dalam Seels, Richey, 1994 : 12) Teknologi adalah suatu rancangan langkah instrumental untuk memperkecil keraguan mengenai hubungan sebab akibat dalam mencapai hasil yang diharapkan.
- Teknologi adalah ilmu pengetahuan mengenai pembangunan dan industri (Saliman, Sudarsono, 1993 : 216).
- Dari Wikipedia, Teknologi adalah pengembangan dan aplikasi dari alat, mesin, material dan proses yang menolong manusia menyelesaikan masalahnya. Sebagai aktivitas manusia, teknologi mulai sebelum sains dan teknik.
- Dalam Random House Dictionary seperti dikutip Naisbitt (2002 : 46) Teknologi adalah sebagai benda, sebuah obyek, bahan dan wujud yang jelas- jelas berbeda dengan manusia.
- Menurut Iskandar Alisyahbana seperti dikutip Yusufhadi Miarso (2007 : 131), teknologi adalah cara melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan manusia dengan bantuan alat dan akal, sehingga seakan-akan memperpanjang, memperkuat, atau mebuat lebih ampuh anggota tubuh, pancaindra, dan otak manusia.
- Menurut Ellul dalam Miarso (2007 : 131), Teknologi adalah keseluruhan metode yang secara rasional mengarah dan memiliki ciri efisiensi dalam setiap bidang kegiatan manusia.
- Menurut Miarso (2007 : 62) teknologi adalah proses yang meningkatkan nilai tambah, proses tersebut menggunakan atau menghasilkan suatu produk , produk yang dihasilkan tidak terpisah dari produk lain yang telah ada, dan karena itu menjadi bagian integral dari suatu sistem.
Dalam
weblog trisakti.ac.id atau weblog Herufal Trisakti Blogger Community
dinyatakan:
Menurut Djoyohadikusumo (1994, 222)
Teknology berkaitan erat dengan sains (science)
dan perekayasaan (engineering). Dalam definisi ini teknologi mengandung
dua dimensi, yaitu science dan engineering yang saling berkaitan
satu sama lainnya. Sains mengacu pada pemahaman kita tentang dunia nyata
sekitar kita, artinya mengenai ciri-ciri dasar pada dimensi ruang, tentang
materi dan energi dalam interaksinya satu terhadap lainnya.
1. Teknologi
berasal dari literatur Yunani, yaitu technologia,
yang diperoleh dari asal kata techne, bermakna wacana seni.
2. Kata
techne ketika dipakai dalam bahasa Inggris menjadi technology yang dipakai pertama kali pada abad ketujuh belas, maka
makna kata “technology” adalah pembahasan sistematis atas ‘seni terapan’ atau
pertukangan, dan berangsur-angsur artinya merujuk pada pertukangan itu sendiri.
3. Menurut
Capra, pada abad ke-20, makna kata teknologi telah diperluas. Itu berarti kata
teknologi tidak hanya mencakup alat-alat dan mesin-mesin, tetapi juga metode
dan teknik non-material. Ini berarti suatu aplikasi sistematis pada teknik
maupun metode.
4. Sekarang
sebagian besar definisi teknologi, lanjut Capra (2004, 107) menekankan
hubungannya dengan sains.
Ahli sosiologi Manuel Castells seperti dikutip Capra (2004,
107) mendefinisikan:
Teknologi adalah ‘kumpulan alat,
aturan dan prosedur yang merupakan penerapan pengetahuan ilmiah terhadap suatu
pekerjaan tertentu dalam cara yang memungkinkan pengulangan. Akan tetapi,
dijelaskan oleh Capra (107) teknologi jauh lebih tua daripada sains. Asal-usulnya
pada pembuatan alat berada jauh di awal spesies manusia, yaitu ketika bahasa,
kesadaran reflektif dan kemampuan membuat alat berevolusi bersamaan. Sesuai
dengannya, spesies manusia pertama diberi nama Homo habilis (manusia
terampil) untuk menunjukkan kemampuannya membuat alat-alat canggih.
Toynbee (2004, 35) menyatakan bahwa
dari perspektif sejarah, teknologi merupakan salah satu ciri khusus kemuliaan
manusia bahwa dirinya tidak hidup dengan makanan semata. Teknologi merupakan
cahaya yang menerangi sebagian sisi non material kehidupan manusia. Toynbee
(2004, 34) selanjutnya menyatakan bahwa teknologi merupakan syarat yang
memungkinkan konstituen-konstituen non material kehidupan manusia, yaitu
perasaan dan pikiran , institusi, ide dan idealnya. Teknologi adalah sebuah
manifestasi langsung dari bukti kecerdasan manusia.
Berdasarkan pemahaman sebagaimana
yang dimaksud di atas (lihat Toynbee), maka pengertian teknologi berkembang
lebih jauh dari yang dipahami sebagai susunan pengetahuan untuk mencapai tujuan
praktis atau sebagai sesuatu yang dibuat atau diimplementasikan serta metode
untuk membuat atau mengimplementasikannya. Dua pengertian di atas telah
digantikan oleh interpretasi teknologi sebagai pengendali lingkungan seperti
kekuasaan politik di mana kebangkitan teknologi Barat telah menaklukkan dunia
dan sekarang telah digunakan di era dunia baru yang lebih ganas. Untuk
memperjelas statement tersebut, kita coba menelaah teknologi secara lebih dalam
lagi. Melihat substansi teknologi secara lebih komprehensif, yaitu konsepsi
teknologi dari kerangka filsafat.
Konsep Teknologi (New)
Menurut Gorokhov (1998) Teknologi
secara konseptual memiliki tiga makna prinsip, yaitu:
1) teknologi (secara teknis) sebagai
agrerat dari semua artifak-artifak manusia yang dipergunakan, mulai dari
perkakas sampai dengan sistem teknologis kompleks yang berskala besar;
2) teknologi sebagai agregat dari
seluruh aktivitas teknis, penemuan yang bersifat invention (penciptaan)
dan discovery (penemuan), riset dan pengembangan, dan tahapan-tahapan
dalam penciptaan teknologis yang berhasil, serta penyebarannya ke masyarakat
secara luas; dan
3) teknologi sebagai agregat dari
keseluruhan pengetahuan teknis, mulai dari teknik yang sangat khusus dan
praktik-praktiknya sampai pada sistem teknologis-saintifik teoretis termasuk
pengetahuan mengenai perekayasaan (engineering knowlodge) dan know-how-nya.Dengan
demikian, teknologi, menurut Gorokhov (1998), didefinisikan sebagai studi
mengenai hubungan antara umat manusia dan dunia yang dimanifestasikan dalam
pandangan teknologis dunia, studi mengenai fenomena teknologis sebagai
keseluruhan, menempatkan teknologi dalam perkembangan masyarakat sebagai
keseluruhan (dan bukan hanya perkembangan teknologi yang terisolasi), dan dalam
dimensi historis, antara restrospektif dan prospektif.
Tujuan dari studi teknologi menurut
Gorokhov (1998) terutama difokuskan pada sains teknis atau perekayasaan,
produksi teknis, aktivitas, dan pengetahuan sebagai fenomena kebudayaan; dan
pengembangan kesadaran teknologis, terutama pemahaman diri dari engineer dan
teknisi dalam praktik perekayasaan dan pengetahuan teknis.
Pandangan yang hampir mirip dengan
Gorokhov (1998), digagas oleh Quintanilla (1998) berkaitan dengan Technological
Progress hubungannya dengan Filsafat Teknologi. Quintanalla (1998) membagi
pandangan dalam filsafat teknologi dalam tiga pandangan, yaitu pandangan
kognitif, pandangan instrumental dan pandangan praksiologis. Masing-masing
pandangan tersebut akan diikuti oleh perubahan dan kemajuan teknologi yang
berbeda.
Dalam pandangan kognitif, teknologi
merupakan bentuk pengetahuan praktis berbasiskan sains yang mengarahkan kita
untuk mendesain artifak secara efisien untuk memecahkan masalah praktis.
Perubahan teknologis terutama memproduksi lebih jauh riset aplikasi saintifik
dan pengembangan pengetahuan teknologis. Sedangkan kemajuan teknis konsisten
dengan peningkatan pengetahuan dan tergantung, pada ekstensi yang luas, dalam
kemajuan (Quintanilla 1998).
Dari pandangan instrumental,
teknologi adalah set dari artifak-artifak yang secara intensif didesain dan
diproduksi untuk melaksanakan fungsi dan pemuas kebutuhan manusia. Perubahan
teknologi dalam pandangan instrumental konsisisten dengan peningkatan kuantitas
dan beragam artifak. Sedangkan kemajuan technological didefinisikan
sebagai fungsi kuantitas dan kepentingan dari kebutuhan manusia yang dapat
memuaskan mereka dalam perangkat teknologis yang dapat dipakai (Quintanilla
1998).
Pandangan ketiga, yang merupakan
pendekatan yang dilakukan oleh Quintanilla (1996) dalam Quintanilla (1998),
yaitu dari pendekatan praksiologis, dasar dari entitas teknologis bukanlah
sistem pengetahuan (pandangan kognitif) maupun set dari artifak (pandangan
instrumental), tetapi lebih merupakan sistem yang kompleks yang dibentuk dari
artifak-artifak ditambah dengan penggunanya atau intentional operator.
Dari pandangan tersebut, Quintanilla (1998) dapat membuat karakterisasi dari
sistem teknologis sebagai sistem-sistem aksi yang secara intensional
diorientasikan pada transformasi objek konkret agar memperoleh, dalam tingkat
efisiensi, hasil yang bernilai. Perubahan teknologis konsisten dalam mendesain
dan memproduksi sistem teknik yang baru dan dalam pengembangan yang berkaitan dengan
efisiensi. Sedangkan kemajuan teknologis dapat diinterpretasikan sebagai
kenaikan kekuasaan manusia dalam mengendalikan realitas. Sistem teknisnya yang
baru dan lebih efisien diaplikasikan pada bagian yang baru dan lebih luas dari
realitas yang berarti kapasitas tertinggi untuk melakukan adaptasi realitas
bagi kepuasan manusia.
Dari pandangannya mengenai
praksiologis tersebut, Quintanilla (1998) kemudian memberikan inti dari
kemajuan teknologis. Pertama, Tujuan teknologi adalah untuk meningkatkan
kekuasaan manusia dalam mengendalikan dan menciptakan realitas. Kedua,
Pengembangan teknologis memiliki dimensi ganda, yaitu inovasi dan efisiensi. Ketiga,
dalam mengkarakterisasikan kemajuan teknis sebagai peningkatan kekuasaan
manusia terhadap realitas, strategi yang perlu dilakukan secara konsisten
adalah dengan mendefinisikan fungsi kemajuan teknologis yang dikombinasikan
dengan inovasi dan efisiensi.
Yang menjadi masalah dalam pemikiran
Quintanalla (1998) adalah akhir dari artikelnya tersebut, ketika teknologi
dihadapkan dengan masalah moral. Menurutnya, tidak ada kaitan antara teori
kemajuan teknologis dan pertanyaan yang berkaitan dengan nilai-nilai moral,
ekonomi, sosial, dan lainnya. Menurut Quintanalla (1998), hal tersebut jelas
dalam dua hal; pertama, penjelasan tujuan sistem teknis adalah komponen
esensial dari definisi sistem teknis itu sendiri. Kedua, konsekuensi
praktis berkaitan dengan teori standar kemajuan teknologis (yang telah
dijelaskan di atas) tidak hanya diakibatkan dari tingkat inovasi dan efisiensi
teknis saja, tetapi kondisi material kehidupan manusia.
Pemikiran filosofis dari teknologi
yang dilakukan Quintanalla (1998) tersebut, adalah bentuk dari tercerabutnya
nilai-nilai dalam kebudayaan manusia sekaligus terpisahnya teknologi dari ibu kandungnya,
yaitu sains. Bahkan ditegaskan oleh Gorokhov (1998):
Jika kita berpikir tentang teknologi
sebagai penciptaan lingkungan baru (“a second nature”), kemudian di sana
terdapat tiga fase pengembangan teknologi modern: kaitan teknologi pada sains,
kaitannya dengan ekonomi, dan kaitannya dengan lingkungan. Filsafat teknologi
baru harus mulai dikembangkan sebagai pengembangan scientific-technological tersendiri
dengan memasukkan filsafat lingkungan, termasuk filsafat pembangunan
berkelanjutan.
Kritik nilai dan moral terhadap
teknologi bukannya tidak dilakukan dari kalangan Barat sendiri. Diingatkan Van
Melsen (1985, 111) bahwa selama ini manusia kurang belajar bagaimana hidup
dengan teknologi, sehingga mereka terkesan lebih sebagai hamba teknologi daripada
sebagai tuannya. Oleh Mumford (1977) dalam Mangunwijaya (1985), dikatakan semua
ini berawal dari transformasi radikal seluruh kehidupan manusia, yang sebagian
besar dipengaruhi oleh pertemuan antara matematika dan fisika dengan teknologi.
Yaitu pergeseran dari teknik empiris berdasar tradisi ke suatu cara
eksperimental, yang berkembang menjadi bom atom, pesawat supersonik, informasi
sibernetik (komputasi), komunikasi jarak jauh, yang perkembangannya ditempuh
dalam waktu relatif pendek, dari perkembangan teknologi sebelumnya. Hal itu
menurut Van Melsen (1985, 111) terdapat tiga kemungkinan yang menyebabkannya. Pertama,
belum sempurnanya teknologi, atau kedua, teknologi telah menimbulkan
bentuk-bentuk praksis lain yang mengharuskan kita belajar dalam hubungan sosial
yang baru; atau ketiga, disebabkan juga karena lemahnya refleksi
filosofis dan etis atas bentuk-bentuk baru di bidang ilmu pengetahuan dan
praksis beserta implikasinya.
Teknologi, paling luas, dapat
didefinisikan sebagai entitas, benda maupun takbenda, yang diciptakan secara
terpadu melalui perbuatan dan pemikiran untuk mencapai suatu nilai. Dalam
penggunaan ini, teknologi merujuk pada alat dan mesin yang dapat digunakan
untuk menyelesaikan masalah-masalah di dunia nyata. Ia adalah istilah yang mencakupi
banyak hal, dapat juga meliputi alat-alat sederhana, seperti linggis atau sendok kayu, atau mesin-mesin yang rumit, seperti stasiun luar angkasa atau pemercepat partikel. Alat dan mesin tidak mesti berwujud benda; teknologi
virtual, seperti perangkat lunak
dan metode bisnis,
juga termasuk ke dalam definisi teknologi ini.
Ringkasnya definisi Bernard Stiegler
tentang technology sbb:
Teknologi adalah pencarian
kehidupan, dalam artian lebih dari sekadar hidup dan sebagai zat-zat anorganik
yang tersusun rapi.
Dalam definisi Stiegler disinggung
dua dimensi yaitu tecnologi dalam arti luas dan sempit. Dalam arti yang lebih
luas, teknologi dapat diartikan: teknologi adalah entitas, benda maupun tak
benda, yang diciptakan secara terpadu melalui perbuatan dan pemikiran untuk
mencapai suatu nilai. Dalam definisi ini, teknologi merujuk pada alat dan mesin
yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah-masalah di dunia nyata.
Technology dalam konteks pengertian
yang luas ini dipahami sebagai istilah yang mencakupi banyak hal, dapat juga
meliputi alat-alat sederhana, seperti linggis atau sendok kayu, atau mesin-mesin yang rumit, seperti stasiun luar angkasa atau pemercepat partikel. Alat dan mesin tidak mesti berwujud benda; teknologi
virtual, seperti perangkat lunak
dan metode bisnis,
juga termasuk ke dalam definisi teknologi ini,
Media
merupakan kata jamak dari medium (latin) yang berarti “perantara”, penghubung
pesan dari si pengirim kepada si penerima”. Perantara itu dapat berupa manusia
atau alat yang diciptakannya. Dalam proses terjadinya kegiatan belajar yang
efektif selalu diperlukan media atau alat bantu pembelajaran. Media itu sering
diartikan sebagai alat penolong dalam kegian belajar dan biasanya meliputi
orang, bahan, peralatan, atau kegiatan yang menciptakan kondisi guna
memungkinkan peserta didik memperoleh pengalaman belajar-pengetahuan,
spiritualitas, moralitas, sikap dan keterampilan.
Media
pengajaran itu biasanya meliputi perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak
(software). Hardware adalah alat yang dapat mengantarkan pesan seperti radio,
televise, buku, Koran, atau majalah. Sedangkan software adalah isi program yang
berisi pesan seperti pada buku, kisah pada film, materi yang disediakan dalam
grafik, bagan dan diagram.
Menurut
Donald P. Reiger mengemukakan empat hal yang dapat dilakukan alat bantu
pembelajaran dalam pelayanan jemaat, yaitu sbb:
1. Membangkitkan
minat peserta didik
2. Mempercepat
proses pembelajaran
3. Mencegah
terjadinya kesalahpahaman
4. Meningkatkan
daya ingat (memori).
Sedangkan
menurut Mary Go Setiawani dalam bukunya pembaruan mengajar (80-82) berpendapat
bahwa media audiovisual secara khusus memiliki sejumlah fungsi sebagai berikut:
mempertahankan konsentrasi peserta didik, membantu guru mengajar lebih cepat,
mengatasi waktu, mengatasi keterbatasan tempat, mengatasi keterbatasan bahasa,
menyampaikan konsep dalam bentuk yang baru, menambah daya ingat murid dll.
B.
KETERANGAN ALKITAB MENGENAI MEDIA
Alkitab
mengkomunikasikan bahwa Allah mendidik manusia melalui media, contohnya:
1. Peraturan
agar Adam dan Hawa tidak memakan buah di tengah taman Eden merupakan media
untuk mendidik mereka taat pada kehendak-Nya.
2. Peristiwa
air bah dan perahu Nuh menjadi media untuk menyampaikan pesan tentang
kekudusan, kebenaran dan keadilan Allah-bahwa dosa dan kejahatan mendatangkan
hukuman.
3. Peristiwa
terbelahnya Laut Teberau sehingga umat Israel melintasinya menjadi media untuk
menyatakan kebesaran Allah.
4. Tuhan
memerintahkan Musa untuk menuliskan perintahNya pada media berupa loh batu
supaya perintahNya dapat dibaca dan dipelajari dikemudian hari.
5. Tuhan
menyampaikan pesanNya melalui media yang berupa mimpi dan penglihatan.
6. Peristiwa
Lima roti dan Dua ikan menjadi mediayang melambangkan bahwa Allah sanggup melakukan mujizat.
7. Peristiwa
Nabi Elia yang diberi makan oleh burung gagak untuk menunjukkan bahwa Allah
sanggup memelihara hidup.
Prinsip
yang sama dapat kita kembangkan di dalam kegiatan mengajar, baik di sekolah,
maupun gereja. murid akan terpicu dalam belajar apabila menggunakan media yang
menarik.
Menurut
Regina M. Alfonso (1986) mengemukakan Yesus juga menggunakan media ketika
mengajar dan berkotbah. Berikut contohnya:
1. Ketika
mengajarkan murid-muridNya agar mereka bersikap rendah hati, anak kecil
dihadirkanNya di tengah-tengah mereka Luk 9: 46-48
2. Yesus
mengutuk pohon ara yang tidak berbuah sebagai media untuk menegaskan iman dan
percaya sangat penting bagi jawaban doa Mrk 11: 12-14
3. Yesus
mengambil mata uang dan menanyakan gambar yang terdapat pada uang itu untuk
mengajarkan bahwa orang harus membayar pajak pada pemerintah dan membawa
persembahan kepada Allah Mat 22:15-22 dll.
Masih banyak hal lain
yang digunakan oleh Yesus sebagai media untuk menyampaikan pesan ilahi bagi
manusia agar menjadi umat Tuhan yang memiliki kerohanian, moral, social yang
baik,. Dan kalau kita mempelajari kitab injil menjadi nyata bahwa Yesus
menggunakan media berupa benda, orang, alam, dan tindakan. Teladan kreatif
Yesus hendaknya menjadi sumber inspirasi bagi kita. Dalam hal ini bentuk dan
jenis media yang kita gunakan mungkin saja berbeda dengan yang digunakan oleh
Yesus dahulu.
C.
JENIS DAN KARAKTERISTIK MEDIA
LeRoy
Ford (1987) mengemukakan bahwa mengajar pada dasarnya ialah proses membentuk
dan mengfungsikan pengalaman anak didik-setiap orang belajar melalui
pengalamannya. Dalam hal itu kelima indra peserta didik (penglihatan, peraba,
penciuman, perasa, dan pendengaran) menjadi sarana dalam pembentukan
pengalamannya. Murid belajar melalui apa yang dilihat dan didengar. Kalau
peserta didik menggunakan indranya lebih dari satu belajar tentu menjadi
semakin baik dan menarik.
Ford
juga mengetengahkan bahwa ada banyak macam pengalaman, termasuk pengalaman
langsung dan tidak langsung, yang mewujudkan tujuan belajar peserta didik.
Misalnya bermain sandiwara, melihat video, dll.
Pada
zaman ini guru dapat merencanakan penggunaan media secara beragam dalam
kegiatan mengajar.
1. Media
yang berupa pengalaman langsung, misalnya mengajarkan doa, bernyanyi dan
mendengarkan firman Tuhan.
2. Media
yang berupa benda dan kegiatan tiruan, seperti gambar, video, film, dan
menjalankan kegiatan tiruan. Boleh juga diterapkan permainan panggung boneka
yang menimbulkan percakapan dan gerakan.
3. Media
yang berupa dramatisasi tindakan, dalam memainkan drama peserta didik akan
mendapatkan pengalaman dan memahami pesan dari peristiwa tertentu.
4. Media
yang berupa karyawisata, seperti membawa peserta didik ke gunung, pantai, kebun
binatang, kebun tumbuh2an sehingga mencapai informasi bahwa Allah pencipta
semesta.
5. Media
telivisi dan media berupa brosur-foto-foto untuk informasi.
6. Media
siaran radio
7. Media
gambar-gambar, lukisan, bagan, dan grafik.
8. Media
yang berupa kata, ungkapan, kalimat yang diperlukan guru untuk mengajar.
Sebenarnya
jenis media dan cara mengelompokkan (taksonomi) media itu beragam. Misalnya,
ada yang melihat dari sudut fungsi, visual, gerak dan suara. Ada yang melihat
dari sudut ekonomis pandangannya.
Menurut
Prof Azhar Arsyad (2006:81-104) pengelompokan media berdasarkan penggunaannya
adalah sebagai berikut:
1. Media
yang berbasis manusia, yaitu mencakup guru, peserta didik sendiri, serta
interaksi di antara mereka. Disamping itu kegiatan yang dilakukan bersama-sama
aktivitas bermain peran (role play), kuis Alkitab dengan dua atau tiga kelompok
peserta didik, debat diantara dua kelompok, menjadi media yang efektif untuk
menyampaikan pengetahuan dan pengalaman hidup.
2. Media
yang berbasis cetakan, antara lain buku, majalah, atau brosur. Agar jenis media
itu efektif, perlu diperhatikan konsistensi, format yang menarik, organisasi,
daya tarik, ukuran huruf dll.
3. Media
yang berbasis visual, yaitu gambar, diagram, peta, dan grafik, ketika
menyaksikan media seperti itu, pikiran peserta didik “bekerja”. Namun tidak
jarang juga emosi mereka tersentuh.
4. Media
yang berbasiskan audio visual, seperti film dan video.
5. Media
yang berbasis computer, dewasa ini peserta didik tengah digalakkan mengenai
media computer.
6. Perpustakaan
sebagai media dan sekaligus sumber belajar: seperti bahan cetak, buku, jurnal
majalah, Koran dan elektronik seperti buku elekronik yang dapat diakses melalui
internet dan compact disc yang memuat banyak tulisan.
Berdasarkan
karakteristiknya, media pendidikan dibagi menjadi:
A. Media grafis, menyampaikan pesan melalui indra
penglihatan (visual). Media itu relative murah. Adapun media itu terdiri dari: pertama, gambar yang bersifat konkret,
mudah dibawa tidak perlu menggunakan peralatan khusus. Kelemahannya, media itu
menekankan persepsi indra dan terbatas kelompok besar. Kedua, sketsa berupa gambar sederhana atau draft kasar yang
melukiskan bagian-bagian pokok tanpa detail. Media itu bersifat murah dan mampu
mengembangkan imajinasi. Ketiga,
diagram yang menggambarkan struktur objek secara garis besar. Keempat bagan yaitu bagan pohon yaitu
merupakan bagan yang menggambarkan hubungan konsep atau objek secara hirearkis
dari yang pokok ke bagian-bagiannya, bagan arus yang menggambarkan suatu arus
proses yaitu hubungan dan arahnya. Bagan linear menggambarkan hubungan antara
peristiwa dan waktu secara kronologis. Bagan stream yaitu kebalikan dari bagan
pohon. Kelima grafik yaitu gambar
sederhana yang menggunakan titik, garis dan gambar. Keenam kartaun atau poster, peta Alkitab, papan panel dan papan
bulletin juga termasuk media grafis.
B. Media Audio, yang berkaitan dengan pendengaran
yaitu radio, alat perekam magnetic misalnya kaset rekaman yang berisi lagu-lagu
rohani dan khotbah dapat membantu orang dalam mempelajari firman Tuhan, dan
laboratorium bahasa. Untuk belajar bahasa asing laboratorium sangat berguna.
Misalnya, untuk belajar bahasa ibrani Yunani, peserta perlu mendengarkan
ucapan-ucapan yang tepat.
C. Media proyeksi, adalah perangkat yang memproyeksikan
pesan, gambar, atau gerakan yang tidak bergerak.
D.
KRITERIA PEMILIHAN MEDIA
Ada
sejumlah factor yang perlu dipertimbangkan guru dalam memilih dan menentukan
media, faktor itu adalah: tujuan mengajar, kemampuan murid untuk menyerap pesan
melalui media, fasilitas media yang tersedia, waktu yang tersedia dan biaya.
Untuk
mencapai tujuan kignitif, media visual grafis dapat dipergunakan termasuk buku,
poster, bagan dan sejenisnya. Untuk membangkitkan sikap (afektif) penggunaan
media audio visual menjadi lebih efektif. Misalnya melihat film martin luther
king, murid termotivasi untuk berkorban bagi masyarakat demi kebenaran dan
keadilan. Untuk membangun keterampilan (psikomotorik) anak didik kegiatan
langsung tampaknya lebih sesuai untuk menjadi pilihan guru.
Isi
pelajaran agama Kristen itu tidak hanya fakta, konsep dan nilai-nilai, tetapi
juga menyangkut iman dan kepercayaan kepada Tuhan yang harus dibangkitkan.
Dalam hal itu, cara Tuhan bekerja untuk menanamkan benih iman dan
menumbuhkannya tidak terbatas pada seberapa banyak media yang digunakan guru.
Efektifitas penggunaan media pembelajaran itu juga dipengaruhi minat dan
kebutuhan peserta didik. Guru yang terbiasa bercerita ketika mengajar mungkin
akan kurang berminat untuk merencanakan penggunaan media pembelajaran lainnya
misalnya karyawisata, demonstrasi, dll. Faktor kecukupan waktu dalam kegiatan
mengajar juga ikut menjadi pertimbangan dalam memilih media pembelajaran.
Permainan peran, demonstrasi, karyawisata membutuhkan banyak waktu untuk
penyiapannya. Menyaksikan tayangan film juga demikian, tetapi dapat dilakukan
dikelas. Untuk itu guru, harus pandai memilih durasi tayangan yang akan
disaksikan dan dipertimbangkan peserta didiknya.
Bercerita
sambil menggunakan poster sering menjadi pilihan bagi guru saat ini. Dalam
kegiatan seminar, tayangan film ringkas kerap dilakukan sebelum masuk ke dalam
aktivitas ceramah atau diskusi kelompok. Sebenarnya dalam penggunaan media
tidak harus mahal tetapi hendaknya menggunakan sesuai dengan tujuan, situasi,
dana dll. Untuk pengajaran sekolah minggu sebaiknya akrab dengan alat peraga,
gambar, lukisan, video dll.
E.
KESIMPULAN
Media
merupakan alat atau sarana untuk menyampaikan informasi. Dengan adanya media
dapat memudahkan dalam pengajaran, serta menyelesaikan pendidikan secara
efesien, dan efektif. Media banyak macamnya, namun harus diperhatikan
kegunaanya dan tujuan yang dicapai. Memang teknologi dan media sangat berguna
namun seorang guru juga harus mampu memiliki kemampuan pengalaman belajar.
Dalam PAK, seorang guru professional harus mampu menggunakan alat-alat
teknologi dan media dalam mengajar baik di pendidikan formal maupun gereja,
sehingga pengajaran menjadi menarik, dan menambah kognitif siswa serta
mengalami perubahan tingkah laku dan memiliki keterampilan khusus dalam
pendidikan agama Kristen.
Mohon bagian yang diambil dari blog saya diberi sumber, beberapa bagian dari blog ini dicopi paste dari Blog: http://perintiswebblog.blogspot.com/. Pemilik blog perintis weblog adalah Yonas Muanley. Jadi mohon diberi sumber dari mana kamu kutip.Mohon diperbaiki atau bandingkan isi blog dengan blog dgn alamat: http://perintiswebblog.blogspot.com/. Trimakasih
BalasHapus